5 Prinsip Meningkatkan Bisnis dan Membangun Tim


Setelah punya alasan yang kuat dalam membangun team, ada 5 PRINSIP yang harus di yakini agar saat menjalankan langkah-langkah detilnya, kita tetap berpatokan pada prinsip-prinsip ini. Saat mengekseksusi langkahnya belum tentu hasilnya ideal, karena itu prinsip ini tetap harus di pegang. Prinsip yang kuat harus di dukung dengan ide, logika, fakta dan bukti-bukti dilapangan.


PRINSIP 1

Kalo kita setuju dgn definisi bisnis menurut Brad Sugar, maka setiap bisnis adalah bisnis orang. Tidak ada bisnis manapun yang ekpansinya luar biasa tanpa melibatkan managing people di dalamnya.

Bahkan jual beli bisnis pun termasuk yg dijual adalah "orang orang"  didalamnya.


Contoh GOJEK adalah bisnis orang, mengumpulkam ojek yg mau di "kendalikan" dengan sistem IT. Begitu juga dengan bisnis KFC, setiap buka cabang pasti butuh team yg langkap mulai dari OB, Tukang masak sampai Manager. 

Lagi-lagi bisnis orang. Saya pernah dengar ada orang yang bosen jadi karyawan, trus pengen punya bisnis online. Banyangannya adalah bisa dikerjakan di rumah. Kapan saja. Gak tergantung bos. Tapi apakah bisnisnya SUSTAIN ???

Belum tentu. Coba bandingkan sama bisnis online yg besar seperti LAZADA, MATAHARI MALL atau yang sejenisnya. Team nya ratusan juga dan gak bisa sekedar dari rumah di waktu yang semaunya sendiri.

PRINSIP 2



Renungkan. Mungkinkah bisnis tumbuh jika team nya loyo...?

Ketika bisnis kedai kopi seperti contoh diatas, butuh ekspansi pasti yg pertama di tumbuhkan adalah kualitas dan kuantitas orangnya dulu. Percuma ada modal dan tempat tapi tidak ada yg menjalankannya. Karena itu bisnis akan berkembang ketika team berkembang juga.

Bottle Neck bisnis banyak terjadi bukan karena "sales & marketing", tapi banyak yg gak jalan karena orang di dalamnya gak bisa dan atau gak mampu jalanin.

Banyak orang yg takut bangun team dengan alasan :
  • Mau di bayar pake apa ?
  • Belum besar, masih kecil.
  • Takut kalo dijadikan pinter malah kabur.
Next saya akan bahas logika detilnya, berupa cerita tranformasi ayam goreng dari AFC diatas tadi. Beberapa orang yg udah tau, merekomendasikan penjelasan memakai analogi ini :



Sementara bagi yg masih takut menjadikan team nya pinter, bisa lihat Richard Brenson diatas.

PRINSIP 3



Masih ingat beberapa tahun yg lalu, kalo naek KRL pasti banyak penumpang liar yg naik di atas gerbong? Banyak pedagang apalagi musim mangga begini, pertama lewat harganya 10 ribu 2 biji setelah 5 kali bolak balik jadi 10 ribu dapet 5 biji.

Sekitar stasiun menjadi banyak lapak. Tapi itu udah berlalu karena ada kepemimpinan yg kuat. Begitu juga dalam bisnis, kadang kita bermimpi punya team yg hebat, trus ongkang ongkang kaki sementara kita masih memble. 

Bayangkan apabila kita ada di posisi team, apakah mereka respek punya leader atau owner yg banyak ALASAN ?

Harus dimulai dari diri sendiri atau dikenal istilahnya Self Leadership. Menurut saya bagian terpenting dari Self Leadership adalah kita harus bisa mengontrol sikap diri sebagai pemenang, jangan sebagai korban. Karena itu akan menular ke team.


Termasuk bagian dari self leadership ini adalah bagaimana kita mengendalikan apa apa yg masuk ke dalam tubuh kita. Saya kemaren riset kecil-kecilan, saya perhatikan pemimpin negara besar, dan pemimpin bisnis baik yg pria maupun wanita mayoritas gak ada yg obesitas. Mungkin mereka kontrol dirinya juga kuat sebelum memimpin orang lain..





Ini hanya contoh kecil aja.

PRINSIP 4


Sebelum menjelaskan tentang Prinsip ke 4, simak cerita berikut :


Misal kita mulai dari contoh AFC di atas. Awalnya kita bisnis sendiri semuanya dilakukan sendiri mulai dari beli ayam ke pasar sampe goreng dan kemudian dijual. Karena kompetitor terkuat sudah main ke level middle, maka pilihan strateginya adalah ke atas atau bawah. Atas pertimbangan pasar bawah cukup besar maka diputuskan ke target pasar bawah dulu. 

Dibuatlah nama AYAM GORENG IBU LILIK. Taglinenya Hemat dan Lezaattt...

Tempatnya masih di gerobak, tapi dari kayu mirip mie ayam grobakan lah. Rasa ayam nya mirip dengan KFC 90% karena lidah masyarakat sudah cukup familiar. Harga KFC promo Rp 10.000, maka AGIL (ayam goreng ibu lilik) harganya Rp 9.000.

Modal produksi 1 ayam Rp 4.000. Jadi gross profit per potong Rp 5.000. Tempat mangkalnya di depan Indomaret atau Alfamart cukup bagus, karena traficnya rame. Mulailah bisnis seperti biasanya. Pagi sebelum subuh pergi ke pasar, beli ayam, pagi masak (masih belum bisa joging). Siang mangkal sampe malam.

Penjualan awal 20 potong. Gross profit masih Rp 100.000/hari. Karena tekun dan kerja keras, kualitas terjaga karena yang masak kan Owner maka pelanggan mulai suka. Penjualan tembus di angka 100 potong per hari (angka yang masih wajar). Laba kotor sudah Rp 500.000/hari.

Karena ingin profit lebih banyak dan waktu kerja lebih singkat. Bukan hanya banyak tapi juga stabil, maka dia mulai rekrut team. Kira-kira rekrut bagian apa yah? Setelah dipikir-pikir, dia memilih rekrut karyawan bagian operation. Yang tugasnya beli ayam sebelum subuh sampai siang hari mempersiapkan ayam siap goreng. 

Karena mental karyawan tidak sehebat bisnis owner maka kerjanya hanya sampai siang. Siang hari dilakukan oleh karyawan satu lagi sampe malam. Cost untuk 2 orang @UMR total sekitar 6 juta perbulan. Nah sudah rekrut 2 orang lantas kerjanya owner ngapain?

Sebelum ada karyawan profit perhari 500 ribu, perbulan 15 juta. Setelah ada karyawan, bayar gaji 6 juta. Profitnya jadi kurang dong jadi 9 juta.

Nah disinilah poin pentingnya. Saat rekrut 2 karyawan yang kerja dari subuh sampe malem, owner bukan jadi mandor tapi mengerjakan pekerjaan lain yang lebih leverage. Tetap kerja dari subuh tapi pekerjaannya sekarang membangun kaki ke 1 dulu, yaitu bangun Branding dan menambah lead atau calon pembeli yang datang ke gerobak AGIL. Meskipun start dari 1 gerobak tapi si Owner sudah punya VISI mau punya 100 gerobak, menjadi pilihan utama masyakarat bawah, hemat tapi lezattt.

Owner mulai membuka lapangan kerja bagi banyak orang. Kerja dari subuh mulai buat program branding dan iklan. Target marketnya penduduk satu kecamatan. Maka dibuatlah :
  • Brosur yang bikin ngiler dengan tagline Hemat tapi lezattt
  • Merek AGIL dipatenkan
  • Buat website
  • Buat sosial media FB, twitter, dll
  • Ikut sponsor acara 17 Agustus
  • Ada yang hajatan kasih diskon
Alhasil ....
Karena fokus sama lead generation maka prospek pun datang bertubi-tubi. AGIL makin terkenal. Menjadi pembicaraan satu kecamatan. Gak muluk-muluk dari 100 perhari naik jadi 200 lah. Itu angka yang realistis. Gak boleh asal, target 1.000 Gross profit naik dari 15 juta menjadi 30 juta dikurang 6 juta menjadi 24 juta. Karena owner nya baik seperti owner HYDRO :) maka karyawan dikasih bonus 1 juta. Jadi take home pay nya masing-masing 4 juta. Gross profit 30 juta - 6 juta - 2 juta = 22 juta

Karena 1 gerobak cukup wow, maka AGIL expansi menjadi 2 gerobak. Lokasinya di kecamatan sebelah yang potensi marketnya serupa 2 gerobak dengan 1 gerobak polanya mirip, hanya owner lebih capek. Sekarang kita tambah jadi 3 gerobak. 

Setelah owner berhasil bangun 1 kaki yaitu branding dan marketing, maka dia sekarang fokus ke HRD. Sementara disaat yang bersamaan dia rekrut orang marketing yang menjalankan tugas yang sudah dicontohkan oleh owner sebelumnya. Dengan ada bagian marketing yang selalu fokus sama lead dan terus diukur hasilnya. Selalu creative mencari cara-cara baru. Maka jumlah yang datang ke AGIL stabil bahkan cenderung bertambah.

Karena mau fokus di HRD dan khawatir prospek turun, apalagi karyawan kadang-kadang sakit. Maka owner putuskan rekrut 2 orang. Buddy system. Agar kalo resign masih ada ganti dan program tetep jalan. Cuma tambah cost nih jadi tambah 6 juta :
- 3 buah gerobak
- 6 karyawan bagian operation
- 2 karyawan marketing
- Total 8 gaji @3juta total 24 juta
- Gross profit 30 juta x 3 = 90 juta
- Gaji 24 juta + insentif 8 juta total 32 juta
- Gross profit 30 juta x 3 = 90 juta
- Gaji 24 juta + insentif 8 juta total 32 juta
- Laba kotor - gaji = 58 juta

Fokus di HRD goalnya adalah agar karyawan yang kerja hasilnya konsisten produktif. Mulailah dibuat sistem. Rule of the game, dibuatlah PP (Peraturan Perusahaan). Dibuat jenjang karir apabila 100 gerobak butuh posisi manager, supervisor, dll. Dibuat sistem training agar rasanya makin enak. Si Owner mulai rekrut 1 orang lagi di bagian HRD yang tugasnya memastikan pegawai yang lain datang ke conter dengan semangat. 

Selain itu karena pelanggan sudah banyak, jika ada yang tidak masuk maka pelayanan terbengkalai. Maka staff HRD selalu menyediakan stok pegawai yang siap didik jadi kalo ada yang pindah kerja langsung siap menggantikan. Cost naik lagi untuk bayar staff HRD, tapi bisnis lebih stabil karena turn over karyawan terjaga.

Si Owner minta ke bagian HRD untuk rekrut orang bagian Finance merangkap Akunting, karena selama ini yang pegang uang istrinya dan suka kepakai untuk beli tas branded. Si Owner minta tiap bulan disetorkan gajinya, sisa laba ditahannya dimasukkan ke rekening khusus atau di tanam ke aset properti untuk cicil ruko yang bisa disewakan sebagai pasive income. Masih ingat sama VISI nya 100 gerobak? Maka disusunlah strategi expansi untuk jadi 6 gerobak. 

Jangan keburu napsu. Step by step yang penting stabil. Jika 3 tambahan ini gagal tidak membuat bangkrut. Kalo napsu tambah 10 lagi bahaya.
1. Bagian marketing ada 2 orang
2. Sales masih kosong
3. Operation ada 6 orang
4. Finance & acc 1 orang
5. HRD 1 orang
6. Research and Development (R&D) belum ada

Sebelumnya fungsi sales dan operation masih gabung. Ya tukang masak juga melayani pelanggan. Nah cara ini jangka pendek OK, tapi bahaya di jangka panjang. Maka di rekrut 1 orang operation manager, tugasnya membuat satu sentra produksi mulai dari suplier sampe siap goreng. Kapasitas yang disiapkan mampu memenuhi 12 gerobak. Sedangkan dalam waktu dekat ini mau expansi tambahan 3 gerobak. Karena ada manager yang fokus sama biaya produksi, dan posisi suplier makin lemah maka biaya produksi menjadi turun meskipun ada tambahan biaya manager operation. Dan manager bisa menggantikan posisi anak buah apabila ada yang tidak masuk. Artinya pelayanan ke pelanggan semakin konsisten. Plus rekrut konsultan SOP agar buat resep nya makin standar. Belum perlu ISO sih, masih grobakan. Kaki ke 3 makin kokoh, operation.

Dalam rangka persiapan expansi lagi, mulailah di bentuk divisi sales. Masing-masing gerobak ada tambahan 1 orang sales yang nyamar jadi KOKI, pintar gaul dan terbuka.
Orang type Influence. Setiap pelanggan yang datang ke gerobak disapa, dan sekaligus di cross selling. Beli 2 atau 3. Pilih dada atau paha ... ? Trus pelanggan yang datang di minta nomor hp nya karena menarik yaa mau aja.

Si Owner karena udah belajar Financial, maka dia bilang ke salesnya. "Sebelum ada sales, penjualan 200 perhari, Kalo udah ada sales, pelanggan makin loyal, maka harusnya naik jadi 300 !”

Sekali lagi.Tambah orang malah tambah profit. Tambah cost UMR profit per gerobak naik melebihi UMR. Kalo gak bisa nambah sales, di rotasi atau di PHK sekalian.

Posisi struktur :
1. Team marketing sudah ada.
2. Team sales dengan manager sudah ada
3. Operation, supplai chain management OK
4. Ada staff HRD yang memantau semua kinerja termasuk manager
5. Bag finance yang bayar ke suplier, bayar gaji dan setor ke owner
6. R&D belum ada, inovasi masih bisa di pikirkan owner

Rencana expansi dari 3 gerobak 6 gerobak mulai di bicarakan dan diskusi sama team. Plus konsultan kalo ada. Karena semuanya sudah siap. HRD tinggal tambah karyawan. Operation ada yang urus. Brand makin terkenal. Sales terpantau day per day. Finance terjaga cash flow nya. Perubahan prilaku konsumen menuntut inovasi yang creative dan innovative. Dengan 6 gerobak, profitnya udah bisa sewa kantor pusat yang lebih keren. Bisa sewa ruko tengah kota.

Nah HRD mulai PD cari karyawan dari kampus ternama. Cari orang orang muda yang fresh, yang bisa memikirkan perusahaan ke depan. Termasuk rekrut staff R&D yang berhasil buat resep Ayam Goreng Tampa Lemak. Harganya pasti lebih mahal. Sehingga profit lebih besar lagi.

Kegagalan yang sering terjadi adalah buat 1 gerobak untung besar, lalu cari investor. Langsung expansi 10 gerobak. Sementara pilar yang lain belum kuat. Hanya mengandalkan brand dan publikasi. Atau kasus lain, owner di "tipu" karyawan, jadi kapok rekrut untuk pegang bagian keungan dan pembelian yang cukup rahasia. Atau orang yang paling jago melayani pelanggan adalah ownernya jadi mau cari pengganti takut pelanggan kabur.

Penjelasan tentang cerita diatas adalah ilustrasi prinsip no 4, bagaimana SINERGI terjadi. apabila tambah karyawan hanya tambah beban, lebih baik tidak tambah karyawan karena tidak terjadi sinergi.

PRINSIP 5


Prinsip no 5 ini adalah : Pada prinsipnya semua manusia itu hanya mementingkan dirinya sendiri.

Contoh 1 :

Saat kita berfoto bersama, trus lihat hasil foto nya, maka yg pertama dilihat adalah foto kita, bukan orang lain. Kalo foto kita terlihat "jelek" sementara yg lain bagus, perasaan kita mungkin gak enak. Tapi kalo foto kita yg bagus dan orang lain ada yg "jelek", bisa jadi kita cuek aja.

Contoh 2 :

Ada seseorang yg teriak "Saya hanya peduli dirinya" Tiba-tiba di tengah jalan dia melihat seekor kambing terjepit pohon, lalu dia menolong kambing itu agar bebas lepas.

Saat ditanya orang lain. "Katanya hanya peduli sama diri sendiri, kok pake nolong kambing ?"

Lalu bapak itu menjawab "Saya nolong kambing itu agar tidak kepikir terus sama saya, jadi saya lepaskan agar pikiran saya tenang, jadi saya tetap pikirin diri sendiri".

Jadi setiap orang punya value yg harus kita bisa sentuh saat membangun team. Membangun team adalah menyatukan berbagai kepentingan yg bisa di "payungi" oleh action bersama.

Contoh 3 :


Laki-laki bisa jadi semangat membantu mencopot baju ini. Tapi setelah "puasss" adakah yg bantu memasangnya kembali ???

Manusia hanya peduli sama diri sendiri. Jika dalam bangun team, kepentingan individu nya tidak terpuaskan, bisa jadi tidak akan mendukung sepenuh hati, apapun program yg mau kita buat.

5 Prinsip Meningkatkan Bisnis dan Membangun Tim 5 Prinsip Meningkatkan Bisnis dan Membangun Tim Reviewed by Suheri on Tuesday, January 12, 2016 Rating: 5

No comments:

Top Category 1

Powered by Blogger.